jump to navigation

Era Nuklir Ke-dua SEGERA dimulai Februari 21, 2008

Posted by metnet in anti nuklir, Blogroll, lingkungan, muria, Nuclear Power news, nuklir, pltn, reaktor nuklir.
trackback

energyEra Nuklir Ke-dua yang telah dibahas pada saat yang lalu, telah memasuki tahapan realisasi. Berbeda dengan era nuklir pertama dimana pemanfaatan energi nuklir untuk pembangkit listrik didominasi oleh negara-negara barat. Pada era nuklir ke-dua, negara-negara asia seperti China, India, Thailand, Vietnam, dan dua-tiga negara lain akan ikut ambil bagian. Indonesia termasuk dua-tiga negara yg akan ambil bagian karena penulis merasakan atmosfir kuatnya anti-PLTN di Indonesia yg sebenarnya hanya wasted time. Selain itu, era nuklir ke-dua terasa sekali di negara-negara eropa terkait kekecewaan sektor pembangkit energi terhadap keputusan Europe Commission ttg target pengurangan Carbon Trading pada tahun 2020

China yg berencana membangun 30-40 PLTN dalam jangka waktu 30 tahun ke depan sudah memulai dengan suatu project prestisius, yaitu membangunPLTN jenis APWR-1000 pertama di dunia. Pembangunan APWR-1000 dengan nama AP-1000 milikWestinghouse dibangun di propinsi paling timur, Zhejiang mulai bulan Maret 2008 dan selesai dalam 3 tahun. Selanjutnya paling tidak pada bulan Agustus 2013 sudah dapat beroperasi secara komersil setelah melakukan berbagai pengujian. Kemudian AP-1000 juga akan dibangun pada tahun berikutnya di propinsi Zhadong.

Thailand juga tidak ketinggalan dalam mengoptimalkan pembangkit listrik di dalam negeri. Thailand mulai melakukan internatioanl bidding pada tahun 2008 yang diikuti oleh Toshiba (Jpn), Mitsubishi(Jpn), Areva (Prancis), dan GE (USA). Konstruksi PLTN pertama Thailand dimulai tahun 2015 dengan dana US$ 1 Milyar. Kamol Takabur (asisten gubernur di EGAT atau PLN-nya Thailand) mengatakan bahwa tanpa PLTN, Thailand akan kehilangan nilai kompetitif dibandingkan dengan dua tetangganya, Indonesia dan Vietnam (yg merancanakan pembangunan PLTN pada saat yg sama).

India akan mendanai pembangunan sebesar US$ 28 Milyar untuk 13 project PLTN yang akan membangkitkan 28 GWe dalam 7 tahun ke depan. Di negara barat, Inggris sudah merencanakan pembangunan PLTN pertama setelah era freezing akibat berita kecelakaan reaktor Chernobyle. Hampir semua negara eropa berpikir kembali ke era nuklir setelah European Commission memutuskan skema Carbon Trading yang baru, yaitu penurunan 20% emisi Carbon pada tahun 2020 yg mengecewakan sektor pembangkit energi.

Posisi Indonesia sungguh teramat sulit dalam usaha membangun PLTN pertama. Gangguan anti-PLTN sangat kuat meskipun jelas sekali kebutuhan energi nuklir di Indonesia seharusnya sudah pada prioritas pertama. Prioritas pertama energi nuklir dengan melihat kepentingan mengganti pembangkit listrik tenaga diesel 10.11% ditambah oil fired 10.77% dari 27 GWe energy demand. Pembangunan energi terbarukan (angin, matahari, ombak, air dll) tidak mampu berbuat banyak karena kapasitas nyata sangat kecil untuk mengimbangi energy demand yg naik dan diprediksi mencapai 100 GWe pada tahun 2025. Kebijakan eksport energi batubara dan gas alam serta pembangunan pembangkit di mulut tambang adalah termasuk bagian dari optimasi. Kondisi optimal yang pokok adalah pemanfaatan sumber energi mix seperti yang telah direncanakan oleh pemerintah dimana peran energi terbarukan diharapkan menyumbangkan 4% (4GWe) pada tahun 2025 termasuk PLTN.

komposisi energi sekarang

Komposisi energi Indonesia sekarang adalah seperti gambar di atas dimana penggunaan BBM untuk energi sangat dominan sehingga terjadi pemborosan yang luar biasa saat harga BBM naik. Kenaikan harga BBM dan kenaikan pemakai energi (demand) seharusnya diperkirakan dengan melihat pola-pola berbagai parameter geo-politik dunia serta perilaku konsumen dalam negeri. Namun tidak ada gunanya berpikir ke belakang, hal yg lebih penting adalah optimasi pada masa depan spt yg telah ditetapkan oleh pemerintah. Optimasi komposisi yang direncanakan oleh pemerintah adalah seperti gambar di bawah dimana terjadi keseimbangan yang disebut energi mix. Energi nuklir atau PLTN masuk sebagai bagian dari solusi sebesar 1.99% (1.99 GWe atau 2 PLTN skala 1000 MWe).

Keselamatan dan Keamanan Nuklir

Mudah sekali menjelaskan ttg keburukan nuklir dengan menceritakan ketakutan publik oleh golongan anti-nuklir. Meskipun secara sadar, kita semua merasa cukup aman dari radiasi nuklir yang dipancarkan oleh lampu TL, radiasi televisi, radiasi ruangdari ruang angkasa saat naik pesawat, maupun radiasidari radioaktif dalam tembok. Radiasi nuklir yang dilapisi dengan berbagai pelindung aktif dan pasif tdk menyurutkan para anti-nuklir dalam bercerita ttg penyakit kanker sebagai akibat dari kebocoran yg kemungkinannya jelas-jelas kecil. Apalagi kebocoran nuklir penyebab kanker dibandingkan dengan kebocoran asap rokok yang luar biasa banyak di lingkungan kita, keduanya bisa menyebabkan penyakit kanker. Kita bisa melihat resiko kanker akibat radiasi dengan melihat data sbb:

- Naik pesawat terbang: 0.5 mrem/jam
- Radiasi kosmik dari ruang angkasa: 20-50 mrem/tahun
- Mineral radioaktif dalam batu dan tanah: 40-60 mrem/tahun
- radiasi dari air dan makanan: 150-250 mrem/tahun
- sinar X: 6 mrem/treatment, dan CTscan: 110 mrem/treatment
- televisi tabung: kurang dari 1 mrem/tahun
- Di trinity zero ground bekas ledakan nuklir: 1.5 mrem/jam
(Data sesuai tertulis di plaktat Trinity site, New Mexico-USA)
- Kontaminasi radiasi dari PLTN Mihama di Jepang ke laut: 0.01mrem
- Kerusakan kelenjar thyroid: 15 rem/jam
(sumber: wikipedia.com)

”Secara teoritis reaktor riset lebih rentan dibanding reaktor untuk PLTN, karena parameternya berganti-ganti” ujar SAM ESDM Bidang Teknologi dan SDM Evita H Legowo kepada situs www.esdm.go.id, Jum’at (25 Jan 2008) di Jakarta. Memang daya reaktor riset di Serpong hanya 30 MW, tapi besar fluks neutron reaktor riset tsb 100X lebih besar dari pada fluks neutron PLTN. Sehingga di reaktor riset Serpong, problem kestabilan fluks neutron dan penanganan keselamatan spy terhindar dari kecelakaan reaktivitas spt kecelakaan Chernobyl memerlukan kerja ekstra dan pengawasan melebihi PLTN. Penggunaan 30 daya kecil untuk reaktor2 riset adalah untuk efisiensi simulasi PLTN pada skala riset. Pembangunan PLTN di Indonesia merupakan pilihan yang tidak bisa dielakkan. Terutama untuk menjawab tantangan permintaan kebutuhan listrik yang terus meningkat. Selain itu juga untuk mensejajarkan penguasaan teknologi nuklir dengan bangsa lain. ”Malaysia dan Thailand juga sudah siap membangun PLTN,” ujar Evita H Legowo (sumber: www.esdm.go.id).

Komentar»

1. josef - Maret 30, 2009

saya sangat tertarik pada diagram pie-chart komposisi energi yang anda tampilkan. Kalau boleh tahu, komposisi tersebut ditinjau pada tahun berapa?

terimakasih banyak atas perhatian saudara

2. metnet - Maret 31, 2009

Diagram pie-chart tercantuk dalam blue print energi Indonesia untuk kondisi tahun 2025

3. bond - Juni 26, 2009

anda membanding-bandingkan sesuatu yg salah….apa anda tidak pernah mendengar atau melihat berita di TV yg sering memberitakan tentang kebocoran nuklir dan korban2 nya….seperti yg terjadi di Jepang, Perancis, AS dan negara2 eropa lainnya….mereka sering menutup-nutupi besarnya dampak negatif yg diakibatkannya….

4. Gerakan Anti-PLTN = Black campaign « MetNet Opinions - Juni 20, 2010

[...] (lihat artikel sebelumnya [...]

5. anti nuklir - Mei 4, 2011

saya singkat saja.
apakah anda tahu kemana limbah nuklir itu dibuang, anda juga harus tahu limbah nuklir sangat berbahaya dan tidak dapat dimusnahkan.

6. citra - Desember 2, 2011

mohon info sumber pie chart penggunaan energi di Indonesia saat ini. Untuk memperoleh info terbaru tentang penggunaan energi di Indonesia datanya dari mana ya?terimakasih sebelumnya


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.