jump to navigation

Kesalahan Persepsi Terhadap Resiko Kecelakaan PLTN Maret 5, 2008

Posted by metnet in Blogroll, Experiments, Nuclear Power news, anti nuklir, lingkungan, muria, nuklir, pltn, reaktor nuklir.
trackback

Terkait rencana pemerintah tentang pembangunan PLTN, telah terjadi distorsi luar biasa terhadap persepsi resiko kecelakaan PLTN. Bahkan seorang pengamat energi di Mampang Prapatan, Fabby Tumiwa, salah mengartikan “accident”. Komentar Fabby Tumiwa bahwa “. . . ternyata pada tahun 2003 ada kira-kira 40 peristiwa (events) nuclear accident di US saja yang dilaporkan oleh NRCttg accident” merupakan distorsi informasi yang timbul dari kurangnya pemahaman. Istilah “event” dalam PLTN adalah kejadian penyimpangan suatu paramater dari alat ukur dalam PLTN yang menyimpang dari semestinya (deviation below the scale). Berdasarkan pengalaman operasi PLTN di USA, kejadian ini sering terjadi saat musim dingin atau musim panas dimana terjadi drift error (Lihat: Sistem Monitoring di PLTN). Sedangkan “accident” adalah suatu kondisi kecelakaan/kerusakan setelah melalui proses anomaly, dan proses incident. Kondisi event yang terdeteksi oleh sistem monitoring diindikasikan ke arah anomaly setelah melewati batas tertentu. Kondisi anomaly tanpa antisipasi akan menimbulkan incident yang merupakan perambatan event mengarah atau berproses ke kejadian kecelakaan/accident tertentu. Dan selanjutnya, accident adalah kondisi kegagalan suatu instrument yang ditunjukkan oleh beberapa event yang saling berhubungan.

Kesalahan persepsi yang paling utama oleh masyarakat umum adalah resiko kebocoran PLTN sehingga limbah radioaktif yang berumur ribuan tahun mencemari area lingkungan yang sangat luas, apalagi PLTN ditangani oleh negara Indonesia yang mengalami problem kompleks terkait lumpur lapindo, kecelakaan pesawat Garuda, korupsi di kejaksaan agung, ledakan laboratorium Batan, dsb. Kata kunci yang bisa dijadikan landasan pembicaraan antara kalangan pro dan anti-PLTN adalah resiko, supaya fokus masalah PLTN memiliki sudut pandang yang sama. Dengan demikian pembahasan berikut tidak akan menyinggung hal teknis lain terkait umur radioaktif, korupsi, human error, dll. Hal terpenting adalah bagaimana bisa/mungkin PLTN terjaga keselamatannya, tidak akan ada yang bocor seumur hidup PLTN.

Inherent Safety
Jaminan bebas resiko adalah dari inherent safety dimana tidak ada di plant manapun di dunia memiliki standart, kelengkapan, teknologi, prosedur, dokumen, learned experiences, dan guide yang sebaik milik PLTN. Dalam skala mikro dari sudut pandang teknologi saja, sebuah reaktor nuklir didesain untuk mengunci semua kemungkinan bahaya pelolosan zat radioaktif dari reactor core pada kondisi apapun, termasuk dioperasikan oleh seorang terorist sekalipun. Kalau mobil, semakin tinggi kecepatan, keselamatannya semakin turun, sedangkan PLTN semakin banyak penarikan batang kendali untuk meningkatkan daya reaktor, daya negatif yang berbalik semakin kuat, sehingga peningkatan daya reaktor hanya bisa dilakukan dengan satu kecepatan tertentu dan sangat pelan. Berbeda sekali dengan mobil bukan ?

Kemudian pada saat kecepatan tinggi, kestabilan mobil sangat rawan kecelakaan. PLTN juga begitu, tetapi tidak sama persis. Pada daya tinggi, panas yang digunakan untuk menggerakkan turbin menghasilkan listrik harus bekerja normal. Kebocoran pendingin reaktor akan membuat panas reaktor tidak terbuang dengan baik. Kalaupun kondisi kecelakaan loos of coolant (LOCA) terburuk terjadi, peranan teknologi inherent safety sangat berperan dalam menjamin keselamatan PLTN. Bukan teknologi dewa, tetapi hanya teknologi praktis sederhana memanfaatkan prinsip efek Doppler dalam desain bahan bakar reaktor nuklir. Peningkatan suhu bahan bakar secara drastis (tidak normal) membuat materi dalam bahan bakar bereaksi secara fisika untuk meningkatkan daya negatif melebihi daya positif. Rekaya bahan bakar seperti ini sudah diaplikasikan dalam PLTN, sehingga apapun kecelakaan yang terjadi di PLTN, daya reaktor tetap terkontrol tanpa campur tangan siapapun/apapun sehingga terhindar dari pelelehan bahan bakar.

Apakah teknologi inherent safety dalam bahan bakar tidak membuat kita merasa aman ?
Meskipun pelelehan bahan bakar sudah tidak mungkin terjadi semenjak kejadian terakhir di TMII, USA, ada teknologi pelengkap untuk menghindari pelolosan radioaktif kelingkungan. Sel-sel bahan bakar dibungkus dengan cladding yang tahan sampai suhu 2600 derajat Celcius. Cladding juga ditempatkan dalam sebuah reactor core yang dibungkus oleh reactor vessel. Kemudian, reactor vessel dibungkus juga oleh gedung PLTN (primary containment) yang mampu menahan tabrakan pesawat jet F4 Phanthom. Gambar struktur penahan kebocoran radioaktif ada dalam Gambar 1 dibawah.

vessel.gif
Gambar 1. Keselamatan berlapis pada PLTN untuk menahan kebocoran radioaktif

Ada juga banyak PLTN yang memiliki 2 betin pengungkung, primary containment dan secondary containtment. Gambar struktur penahan kebocoran radioaktif dengan double containtment ada dalam Gambar 2 dibawah.

vessel2.jpg

Gambar 2. Keselamatan berlapis pada PLTN untuk menahan kebocoran radioaktif

Setiap bahan penyusun PLTN selalu diuji kegagalannya dan dirangkai menjadi satu sistem. Antara sistem satu dan lainya saling berintegrasi sehingga angka kegagalan setiap bagian PLTN diakumulasi menjadi satu. Dan standart kegagalan adalah 10E-7 (10 pangkat minus 7). Sebagai perbandingan dengan sistem lain, angka kegagalan pesawat terbang adl. 10E-5 untuk pesawat baru. Pesawat bekas umur 10 tahun sekitar 10E-3.

Apakah teknologi inherent safety dalam bahan bakar tidak membuat kita merasa aman ?
Yang pertama kali merasa hal ini belum cukup adalah para expert PLTN sendiri, jauh sebelum masyarakat anti-PLTN mengkuatirkan kebocoran radioaktif meskipun berbagai teknologi menjamin keselamatan PLTN. Independent Society diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam pengecekan, pemeriksaan, pengujian, dan segala hal terkait keselamatan PLTN. Tentu yang bis melakukannya adalah anggota Independent Society yang memiliki kemampuan teknis dalam keselamatan PLTN. Di Indonesia ada Bapaten berusaha melakukan pembersihan secara besar-besaran terhadap para koruptor dimulai dengan perubahan posisi Kepala Bapeten ke Dr. As Natio Lasman. Kemudian ada Dewan Energi dan berbagai kelengkapan lembaga yang turut menjaga keselamatan PLTN.

Apakah teknologi inherent safety dalam bahan bakar dan partisipasi independent society yang melibatkan ahli nuklir diluar PLTN ini, tidak membuat kita merasa aman ?
Setiap anggota IAEA, PLTN yang dimiliki pasti terpasang berbagai alat elektronik canggih termasuk macam-macam kamera, komputer, sensor dll yang selalu hidup untuk mengawasi kerja PLTN. Itupun sebelum PLTN bekerja, inspeksi, penelitian, pengujian, dsb dilakukan oleh IAEA bersama dengan independent society. IAEA selalu menghitung berapa Uranium/Plutonium yang masuk dan keluar. Ketahanan bahan setiap instrumen dan kegagalannya selalu dihitung dengan cermat dan diuji dengan transparan dan terdokumentasi dengan rapi. Setiap kecelakaan PLTN didunia selalu dianalisis untuk selalu memperbaiki dan memperbaiki standart yang sudah ada, sehingga dari hari ke hari problem kebocoran radioaktif semakin terjamin. Apapun korupsi yang terjadi, dan siapapun personel yang menangani PLTN, standart IAEA adalah standart tertinggi yang tidak pernah lolos. Sebelum masyarakat kuatir, IAEA akan menutup suatu PLTN milik anggota IAEA yang tdk memenuhi standart.

Apakah SEMUA INI tidak membuat kita merasa aman ?
Bila anda tinggal di Jawa, seharusnya anda lebih mengkuatirkan keselamatan diri sendiri terhadap kecelakaan lalulintas. Kalaupun hal ini dianggap tidak relevan (padahal anti-PLTN selalu membandingkan dengan penanganan Lapindo dll) , di Jawa ada 3 reaktor nuklir untuk keperluan riset. Daya reaktor riset tersebut memang jauh lebih kecil daripada PLTN, namun bukan berarti resiko pelolosan radioaktif dari reaktor riset menjadi lebih kecil dari pada PLTN. PLTN memiliki pelapis keselamatan sesuai urutan sel bahan bakar, cladding, reactor vessel, dan gedung PLTN. Reaktor riset tidak memiliki reactor vessel. Kemudian kalau daya reaktor disamakan dengan kecepatan mobil, pemikiran saya adalah fluks neutron (istilah dlm fisika reaktor) dari reaktor nuklir sepadan dengan volume ruang bakar mesin (cc). Fluks neutron PLTN adalah sekitar 10E+12 (pangkat 12), sedangkan fluks neutron dalam reaktor riset Serpong adalah 10E+14 (100 kali lipat dari PLTN). Dan ada banyak kondisi perbedaan reaktor riset dan PLTN yang dipersepsikan salah oleh masyarakat awam bahwa reaktor riset lebih aman dari pada PLTN. Ingat, reaktor Chernobyl mengalami kecelakaan saat melakukan percobaan yang berbahaya.

Hal lain terkait ketergantungan teknologi, bahan bakar Uranium, dll lebih baik dibahas terpisah supaya lebih fokus.

MetNet

Komentar»

1. Geritz - April 1, 2008

Artikel ini cukup mencerahkan saya

-Febri-

bataragoa.wordpress.com

2. K - Mei 12, 2008

hmmm

sepertinya kita punya sudut pandang yg sama mengenai resiko(risk)….

salam kenal..

3. Axlrose - Juli 23, 2008

PLTN riset di Bandung tidak pernah terdengar bocor. Jadi, Indonesia mampu mengoperasikan PLTN. Bahkan Indonesia sudah memiliki ‘prototype’ PLTN (pltnforpeace.wordpress.com).

4. metnet - September 18, 2008

Mungkin ini sedikit kesalahan persepsi juga di kalangan pro-PLTN. Bahwa reaktor riset di Bandung tidak menghasilkan listrik sehingga tidak disebut PLTN. Meskipun begitu, 3 reaktor riset di Bandung, Jogja, dan Serpong digunakan juga untuk mempelajari dan menguasai teknologi PLTN.

5. Axlrose - September 21, 2008

Inti PLTN adalah CORE seperti yang ada di Bandung. Yang LAIN hanyalah BASA-BASI saja, SAMA dengan di PLTU Tanjung Priok (steam turbin).

6. Axlrose - September 21, 2008

CORE PLTN Indonesia di Serpong kapasitasnya sama dengan PLTN di Cina tipe HTR-10 (wikipedia.org)