jump to navigation

Perkiraan Masa Depan PLTN di Indonesia November 7, 2009

Posted by metnet in anti nuklir, bbm, biofuel, Blogroll, blue energy, energi alternatif, hidrogen, lingkungan, muria, Nuclear Power news, nuklir, pltn, reaktor nuklir.
trackback

Latar Belakang

Kondisi pembangunan energi Indonesia sedang menghadapi tantangan yang berat. Saat ini, permintaan energi (demmand) sedang naik dan produksi energi (supply) juga sedang naik, tapi produksi tidak bisa mengejar permintaan. Tantangan demand-supply kebutuhan listrik masih terlalu sederhana. Sektor transportasi juga berkembang dan ada perubahan dari mode bahan bakar ke arah mode listrik. Kemudian Indonesia berusaha menjadi negara maju atau meningkatkan kesejahtaraan setara dengan negara maju dimana sektor industri sedang mengalami percepatan. Sehingga kebutuhan energi makin sulit dipenuhi. Tantangan ini harus diselesaikan dengan kerja-sama semua pihak.

Proyeksi

Kebutuhan energi Indonesia telah dianalisis oleh BPPT, LIPI, Pertamina, Dep. Energi dan Sumber Daya Mineral, dan instasi-instansi lain. Bahkan lembaga-lembaga konsultan energi juga melakukan analisis secara independen. Hasil-nya SAMA ! Kebutuhan energi di Indonesia tahun 2025 dan 2050 sulit untuk dipenuhi dengan kondisi seperti sekarang ini. Pada tahun 2025, kita memerlukan produksi listrik sebesar 100 ribu MWe (setara dengan 2000 PLTU kelas 50 MWe). Pada tahun 2050, Indonesia memerluka suplai listrik sebesar 8 kali dari produksi tahun 2010. Padahal, proyeksi tersebut belum memasukkan perubahan mode sektor transportasi ke arah mode listrik, karena suplai energi minyak bumi diproyeksikan sudah habis pada tahun 2020-2025 atau bisa diperpanjang habis tahun 2030 bila ada sumber baru. Kita perlu merubah banyak energi batubara, gas, nuklir ke energi listrik, energi cair, dan energi gas Hidrogen.

Energi Mix

Kebijakan pemerintah Indonesia sejalan dengan rekomendasi dari berbagai institusi yang telah melakukan proyeksi permintaan energi tahun 2025 dan 2050. Kita mengalami kesulitan luar biasa untuk menjadi NEGARA MAJU. Satu hal yang menghalangi kemajuan kita adalah suplai energi. Efisiensi energi bisa kita lakukan dalam 10-20 tahun, tapi sampai kapanpun, permintaan energi dalam negeri sulit untuk dipenuhi dari dalam negeri. Program pembangunan 10.000 MW tahap I yang sebagian besar disuplai dari batubara tidak cukup. Kita memerlukan tahap II dimana 60-70% diharapkan dari energi geotermal. Dan diharapkan, kita terus membangun 10.000 MW tahap III yang selesai paling cepat tahun 2020. Sehingga pada akhir tahun 2020, total produksi listrik Indonesia total diharapkan mencapai 50.000MW. Padahal hasil proyeksi permintaan listrik tahun 2025 oleh institusi-institusi nasional adalah 100 ribu MWe (lihat bagian proyeksi). Ada MInUS 50 RIBU MWe! Dan jangan proyeksi 100rb MWe turun. Penurunan proyeksi energi nasional pada tahun 2025 berarti perlambatan peningkatan kesejahteraan atau perlambatan negara kita jadi negara maju. Kalau kita sudah puas dengan kondisi Indonesia 2010, proyeksi permintaan energi nasional 2025 bisa dikoreksi menjadi 60-70 rb MWe.

Peranan PLTN

Melihat proyeksi berbagai institusi nasional dan internasional (Indonesia Energy Outlook), hasil proyeksi memiliki kepercayaan (confidence) yang sangat tinggi, karena hasil benchmarking sangat bagus. Pada dasarnya, kesalahan proyeksi mungkin salah dan hal tersebut bukan hal pokok. Kita perlu landasan yang bisa kita percayai bersama atau memiliki nilai kepercayaan yang terbaik. Oleh karena itu, kebijakan ENERGI MIX oleh pemerintah Indonesia adalah kebijakan terbaik dan wise dimana kita harus mengejar ketertinggalan kita dalam SEMUA SEKTOR ENERGI. Energi nuklir bukan penyelesaian dari permintaan energi di Indonesia pada masa mendatang. Tapi kita memerlukan PLTN untuk membantu memenuhi permintaan permintaan energi nasional bersama-sama dengan sumber energi lainnya, sudah tentu sektor energi terbarukan harus dibangun maksimal meskipun harganya 2-3 kali dari harga PLTN.

Kebijakan Energi Indoensia

Dengan asumsi permintaan energi yang naik berarti kondisi ekonomi juga naik, maka tidak berlebihan bahwa implikasi dari pembangunan pembangkit listrik dan pabrik produksi energi memiliki dampak ekonomi yang sangat besar. Oleh karena itu, kebijakan pemerintah perlu mendukung industri energi nasional. Kalau bisa sekali dayung, 2-3 pulau terlampai. Misalnya dengan memberikan semacam keringan pajak bagi industri yang memiliki kandungan lokal lebih dari 30% pada tahun 2015 dan peraturan pemerintah bisa dikoreksi bagi pemberian keringanan pajak bagi industri dengan kandungan lokal 50% pada tahun 2025. Kebijakan pemerintah Indonesia terhadap pengembangan PLTN perlu saya sampaikan dalam topik tersendiri.

Perkiraan Kebutuhan PLTN

Pada tahun 2025, sebenarnya permintaan listrik Indonesia tanpa PLTN sudah MINUS 20 ribu MWe dengan asumsi kondisi ekonomi Indonesia sama dengan tahun 2010. Dan berdasarkan kondisi kemampuan dalam negeri dalam membangun PLTN, kita hanya mampu membangun maksimal 4 pLTN, total 4 ribu MWe atau 4% dari kebutuhan listrik nasional pada tahun 2025. Kita bisa melakukan proyeksi kebutuhan PLTN pada tahun 2050 (200 ribu MWe) untuk mencari landasan kebijakan pembangunan PLTN pada masa sekarang ini. Bila kita proyeksikan bahwa kebutuhan PLTN tahun 2050 adalah 10-20 PLTN atau 10-20% kebutuhan listrik nasional (tergantung dari asumsi produksi listrik dari batubara, minyak bumi habis, dan keterbatasan gas), maka Indonesia HARUS MEMBELI lisensi PLTN tipe PWR dari perusahaan ternama dari negara USA, Prancis atau Rusia. Kebijakan Jepang melakukan transfer teknologi dari General Elektrik ke PLTN tipe BWR oleh Toshiba dan Hitachi, kemudian PWR Westinghouse oleh Mistubishi dan Toshiba, dan juga pemerintah Korea Selatandan Cina yang melakukan hal yang sama, yaitu transfer teknologi CANDU, PWR Westinghouse, BWR General Elektrik, adalah skema yang PERLU DICONTOH. PLTN Jepang pertama memiliki kandungan lokal 10% dan PLTN ke-2 adalah 30%. 5 PLTN pertama di Cina memiliki kandungan lokal dibawah 10% (CANDU, PWR, VVER etc), dan PLTN berikutnya menuju 100% kandungan lokal dengan Uranium dari Australia. Setelah 20 PLTN beroperasi di Cina, maka Cina akan bebas dari ketergantungan terhadap Uranium karena memperoleh Plutonium yang ada di dalam limbah PLTN. Plutonium ini akan menjadi bahan bakar PLTN tipe fast breeder dan bisa direcycle secara terus menerus (mirip renewable energi).

Bagaimana Indonesia ?

Komentar»

1. agus cipto - Januari 2, 2012

info yang bagus buat prospek.. thanks


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.