jump to navigation

Dampak Ekonomi Sederhana PLTN Desember 31, 2009

Posted by metnet in anti nuklir, bbm, biofuel, blue energy, energi alternatif, Experiments, hidrogen.
trackback

Dampak ekonomi pembangunan PLTN bagi daerah terpencil pasti sangat signifikan.

Saya beranggapan hal ini masih teori. Sesuai denga teori lapangan, proses konstruksi PLTN selama 5 tahun akan melibatkan 100 lebih perusahaan pemasok (supplier) dengan jumlah pekerja sekitar 2000 orang. Setelah PLTN beroperasi, jumlah pegawai akan mencapai 1500 orang yang butuh jajan, makan dan minum, belanja dll pada saat jam istirahat. Bila menetap di dekat PLTN dan membawa keluarga, tentu biaya belanja akan lebih besar. Potensi ini yang akan saya kaji dengan metode paling sederhana.

Silahkan dihitung bersama, dengan asumsi gaji minimal IDR 10 juta/bulan dan minimal belanja di lokasi PLTN 40% atau IDR 4 juta/bulan. Sebagai catatan, gaji pegawai PLTN bervariasi antara IDR 10-40 juta/bulan. Asumsi gaji diambil minimal untuk menghitung potensi minimal. Maka potensi minimal belanja yang bisa diserap daerah lokal adalah 1500 pegawai x IDR 4 juta/bulan = IDR 6 milyar/bulan. Perputaran uang IDR 1 milyar/bulan di desa tempat lokasi PLTN untuk kebutuhan hidup primer dan sekunder akan berdampak sangat signifikan terhadap peningkatan kesejahtaraan penduduk setempat apabila tersedia banyak restoran, toko kebutuhan pokok, kedai makan-minum, dsb.

Berdasarkan teori ini, saya coba bandingkan dengan kondisi nyata di kota Kaziwazaki Kariwa, Jepang. Kota kecil ini memiliki PLTN yang pernah menderita karena gempa bumi Niigata yang sangat besar. Kondisi kota luar biasa ramai. Saat jam kantor siang, sesuai dengan teori, semua restoran atau kedai makan-minum penuh dengan pengunjung ibu dan anak. Tapi saya tidak mengamati toko-toko penyedia kebutuhan pokok.

Berbeda dengan kota Takasaki (~100km dari Kariwazaki) dengan jumlah penduduk yang sama, warung tampak sepi sekali saat waktu makan. Kalau gaji pegawai PLTN rata2 di Indonesia 100juta per-tahun, sekitar 1500pegawai x 50juta= 75 milyar akan beredar di warung2, toko2, pedagang2, pasar2 dll. Dampak ini bisa diperluas untuk daerah lain kalau pemda pandai bernegosiasi dg vendor, utiliti/operator dan pusat. Karena ijin dari daerah sangat penting, negosiasi dari pemda sangat diperhatikan, misalnya minta industri lebih dekat, bantuan bangun sekolah, jalan transportasi, jalan kereta api, donatur, sponsor kegiatan sosial, dan untuk biaya fasilitas  sosial lain. Vendor PLTN biasanya dg senang hati mau bantu karena biaya tsb relatif kecil dibandingkan dg biaya konstruksi PLTN dan sangat mendukung fasilitas sosial pegawainya sendiri. Kemudian pihak utiliti/operator juga bisa dinegosiasi. Proyek 10 trilyun besar sekali, tentu 100 milyar terlihat kecil sekali.

Kalau ada kejadian seperti gempa bumi seperti kejadian di Niigata Jepang, PLTN perlu perbaikan dan pegawai berlipat dua, sekitar 3000 orang. Dan kalau di daerah itu ada 7 PLTN seperti site PLTN Kaziwazaki Kariwa di Jepang, berarti perlu lebih dari 20ribu orang. Banyak bagian pekerjaan yg bisa diisikan oleh orang lokal. 7 PLTN dg lebih dari 10 ribu pegawai, perlu 8000 orang lebih dg kualifikasi STM. Padahal jumlah penduduk asli Kasiwazaki hanya sekitar 5 ribu jiwa.

Sy pikir PR-kita banyak.

PR paling dasar/sederhana adalah kita harus mempelajari

sumber penghasilan kita dg dalam, tdk boleh

kalah pengetahuan dg pendatang. Mengundang pendatang

untuk ekspert/ngajar/konsultasi bisa jadi jalan tercepat.

Universitas di Irian Jaya lebih baik mendatangkan banyak

dosen2 pertambangan dari ITB,UI, UGM atau dosen tamu dari

freeport dg bayaran yg baik sekali, kalau perlu salary

dg standar internasional. Investasi awal tentu besar,

demi masa depan. Hal ini bisa direncanakan oleh UNCEN

sendiri tanpa campur tangan pemerintah.

Selain itu, . . . masih banyak PR lainnya.

Capek sekali pasti . . . .

Mungkin, sebisa mungkin, hindari campur tangan pemerintah,

supaya hasilnya bisa diperkirakan sendiri dan lebih pasti.

———– dampak ekonomi kontroversial—————

Pangkalan Militer USA

USA skr sedang menawarkan pangkalan militer di daerah pasifik,

tawarannya menggiurkan. 2000 tentara USA berarti gerakan

ekonomi yg signifikan untuk daerah yg terpencil disamping

guyuran dollar dari pemerintah USA untuk segala biaya sewa.

Tapi pangkalan militer USA punya dampak sosial yg besar juga.

PLTN

PLTN mirip dg pangkalan militer USA, dampak ekonomi bagi

daerah terpencil sangat signifikan. 5 tahun konstruksi

PLTN akan melibatkan 100 lebih perusahaan supplier dg

jumlah pekerja sekitar 2000 orang.

Setelah PLTN beroperasi, jumlah pegawai juga ada sekitar

1500 orang yg butuh jajan, makan dan minum, belanja dll.

Kalau ada gempa bumi seperti kejadian di Niigata Jepang,

PLTN perlu perbaikan dan pegawai berlipat dua, sekitar

3000 orang. Kalau di daerah itu ada 7 PLTN seperti site

PLTN Kaziwazaki Kariwa di Jepang, berarti perlu lebih dari

20ribu orang. Banyak bagian pekerjaan yg bisa diisikan

oleh orang lokal. 7 PLTN dg lebih dari 10ribu pegawai,

perlu 8000 orang lebih dg kualifikasi STM. Padahal jumlah

penduduk asli Kasiwazaki hanya sekitar 5ribu jiwa.

Warung saat jam makan penuh dg ibu+anak, berbeda dg

kota Takasaki (~100km dari Kariwazaki)dg jumlah penduduk

yg sama, warung tampak sepi sekali saat waktu makan.

Kalau gaji pegawai PLTN rata2 di Indonesia 100juta per-tahun,

sekitar 1500pegawai x 50juta= 75 milyar akan beredar di

waring2, toko2, pedagang2, pasar2 dll.

Dampak ini bisa diperluas untuk daerah lain kalau pemda

pandai bernegosiasi dg vendor, utiliti/operator dan pusat.

Krn ijin dari daerah sangat penting, negosiasi dari pemda

sangat diperhatikan, misalnya minta industri lebih dekat,

bantuan bangun sekolah, jalan transportasi, jalan kereta api,

donatur, sponsor kegiatan sosial, dan untuk biaya fasilitas

sosial lain. Vendor PLTN biasanya dg senang hati mau bantu

krn biaya tsb relatif kecil dibandingkan dg biaya konstruksi

PLTN dan sangat mendukung fasilitas sosial pegawainya sendiri.

Kemudian pihak utiliti/operator juga bisa dinegosiasi.

Proyek 10 trilyun besar sekali, tentu 100 milyar terlihat

kecil sekali.

Terima kasih.

Muhammad Subekti

Komentar»

1. niko - Januari 7, 2010

nice post Gan. Lanjutkan. PertamaX dah ane amankan..cihui ^_^

2. anhar - Januari 9, 2010

beberapa asumsi di atas tentu perlu di-refine. Tetapi dari apa yang saya baca, masyarakat sekitar di banyak tapak di Jepang bangga punya PLTN di daerahnya, itu pasti karena mereka merasakan manfaatnya & kepercayaan penuh thd pemerintah daerahnya dalam mengelola PLTN tersebut. Ini memang yang perlu juga ditumbuhkan di Indonesia

3. metnet - Januari 10, 2010

@niko dan @anhar.
Terima kasih atas kunjungan ke blog saya. Sy tidak kompeten dalam menilai pengaruh ekonomi dari PLTN. Sehingga, sy menyajikan data dan asumsi dengan kondisi minimal supaya perkiraan saya tidak berlebihan (over value). Kalau potensi penambahan peredaran uang IDR 75 milyar masih dianggap over-value, mungkin pembaca bisa mengambil asumsi sendiri potensi penambahan putaran uang minimal secara extrem sampai IDR 25 milyar perbulan. Sy yakin dampak fresh-money IDR 25 milyar/bulan akan melebihi dampak ekonomi dari 10 pabrik rokok dg pegawai masing2 seribu pegawai.

4. Dampak Ekonomi Sederhana PLTN Bagian-2 « MetNet Opinions - Januari 11, 2010

[...] Sederhana PLTN Bagian-2 Januari 11, 2010 Posted by metnet in Experiments. trackback Pada tulisan sebelumnya, saya mencoba menghitung dampak ekonomi PLTN berupa potensi penambahan putaran uang dengan metode [...]

5. henryaja - Mei 8, 2010

yah lumayan itung2annya..lalu bgaimna dgn dampak sosialnya?????tolng donk di hitung ya?


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.